Isu agama yang diangkat dalam pelaksanaan Pilkada DKI
Jakarta dikhawatirkan guru dan orang tua bisa berdampak kepada para siswa.
Temuan penelitian Kemendikbud di Salatiga dan Singkawang
soal siswa yang menolak Ketua OSIS yang berbeda agama dengannya menguatkan
kekhawatiran hal serupa terjadi di Jakarta.
"Pilkada DKI Jakarta ini, satu momentum, yang imbasnya
ke mana-mana," kata Ketua Yayasan Cahaya Guru Henny Supolo Henny dalam
sebuah diskusi peringatan Hari Pendidikan Nasional yang digelar Komisi Nasional
Hak Asasi Manusia, di Jakarta, Selasa (2/5/2017).
Henny mengatakan, beberapa pekan lalu ia sempat berkunjung
ke sebuah agenda dengan guru-guru dan orang tua murid di Bandung. Di sana, kata
Henny, beberapa orangtua mengatakan kondisi politik hampir serupa dengan
kejadian tahun 1998.
"Mereka terbuka mengatakan bahwa mereka korban '98.
Mereka bilang bisa melewati itu semua, tetapi tidak bisa membayangkan bagaimana
dengan anak-anaknya," kata Henny.
Politik praktis tidak secara langsung mengganggu kegiatan
belajar-mengajar. Namun, lanjut Henny, hal itu berdampak terhadap kemerdekaan
berpikir anak-anak.
Henny juga menyampaikan, beberapa waktu lalu ia mendapatkan
laporan penelitian dari Kemendikbud di sekolah-sekolah di Singkawang dan
Salatiga mengenai toleransi, kesetaraan dan kerja sama.
"Ada keengganan anak dipimpin ketua OSIS yang berbeda
agama," kata Henny.
Hasil penelitian Kemendikbud
Pernyataan Henny soal potret intoleransi seperti itu berkaca
pada hasil penelitian yang dilakukan Pusat Penelitian dan Pengambangan
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada bulan Juli-September 2016.
Penelitian mengambil sampel di dua sekolah di Singkawang dan
dua sekolah di Salatiga. Total responden yang dilibatkan mencapai 160 orang
yang terdiri dari siswa, guru, kepala sekolah, dinas pendidikan, hingga
akademisi.
Penelitian dilakukan secara kualitatif melalui teknik
pengumpulan data berupa wawancara, pengisian kuesioner, observasi, dan focus
group discussion (FGD).
Hasilnya, mayoritas lingkungan pendidikan di kedua wilayah
itu cukup toleran terhadap perbedaan.
Hal ini ditunjukan pada jawaban atas pertanyaan seperti
memberikan ucapan selamat hari raya kepada teman sekolah yang berbeda agama.
Sebanyak 57,5 persen sangat setuju; 30,6 persen setuju; 10 persen ragu-ragu;
1,3 persen tidak setuju; dan 0,6 persen sangat tidak setuju.
Pertanyaan lainnya seperti OSIS sebaiknya diketuai siswa
dari agama mayoritas, sebagian besar menjawab tidak setuju. Rinciannya, 36,3
persen sangat tidak setuju; 42,5 persen tidak setuju; 13,1 persen ragu-ragu;
6,3 persen setuju; 1,9 persen sangat setuju.
Selain itu, pertanyaan seperti kenyamanan dipimpin oleh
seseorang dengan agama yang sama dijawab tidak setuju oleh mayoritas responden.
Rinciannya yakni 16,8 persen sangat tidak setuju dan 34,8 persen tidak setuju.
Sementara 19,3 persen setuju dan 3,7 persen sangat tidak setuju. Sebanyak 25,5
persen mengaku ragu-ragu.
Ada tujuh pertanyaan yang ditanyakan kepada responden
terkait dengan nilai kebinekaan yang mereka anut. Hasilnya, memang menunjukkan
masyarakat di Singkawang dan Salatiga cukup toleran.
Namun, penelitian ini memotret masih adanya benih-benih
intoleransi di lingkungan pendidikan yang perlu diatasi dengan pendidikan
kebinekaan.
Benih-benih intoleransi itu tampak pada masih adanya siswa
maupun guru yang menganggap Ketua OSIS harus dari agama mayoritas, pemimpin harus
yang seagama, memilih teman yang seagama atau pun satu etnis, hingga tidak
mengucapkan selamat hari raya kepada orang yang berbeda agama.